running text

siti Latifah

Kamis, 20 Juni 2013

mengenal karakter tunalaras

A.  HIPERAKTIFITAS
1.      Pengertian Hiperaktifitas
Berdasarkan klasifikasi dan karakteristik yang dikemukakan oleh Quay (Hallahan & Kauffman, 1986), hiperaktif termasuk dalam dimensi anak yang bertingkah laku kacau (conduct disorder).
Ciri-ciri anak hiperaktif adalah sebagai berikut.
a)    Gerakannya terlalu aktif, tidak bertujuan, tak mau diam sepanjang hari, bahkan waktu tidur ada yang melakukan gerak di luar kesadaran;
b)   Suka mengacau teman-teman sebayanya, dalam bertindak hanya menurutkan kata hatinya sendiri, dan mudah tersinggung;
c)    Sulit memperhatikan dengan baik.
2.      Penyebab Hiperaktifitas
Hiperaktif disebabkan oleh banyak faktor, seperti disfungsi otak, kekurangan oksigen, kecelakaan fisik, keracunan serbuk timah, kekurangan gizi dan perawatan pada masa tumbuh kembang, minuman keras dan obat-obatan terlarang selama kehamilan, kemiskinan, dan lingkungan keluarga yang tidak sehat (Koupersik dalam Kauffman, 1985).
3.      Pengendalian Hiperaktifitas
Ada beberapa pengendalian hiperaktifitas yang dikemukakan oleh Kauffman (1985) :
a)      Medikasi
Bagi anak hiperaktif, medikasi yang sering dipakai adalah obat-obat perangsang saraf terutama yang ada kaitannya dengan penenangan.
b)      Diet
Diet yang dianjurkan adalah pantangan berbagai macam makanan, termasuk makanan yang mengandung zat pewarna atau penyedap rasa tiruan yang dapat menyebabkan hiperaktif.
c)      Modifikasi tingkah laku
Berdasarkan paradigma Operant Conditioning Skinner, semua perilaku merupakan hasil belajar atau diperoleh dari interaksi individu dengan lingkungannya. Agar penerapan teknik modifikasi tingkah laku berhasil perlu diperhatikan berbagai prinsip antara lain: menentukan kapan harus memberi hadiah, kapan harus memberi hukuman, serta jenis penguat apa yang pantas dipakai.
d)     Lingkungan yang terstruktur
Pendekatan ini menekankan pengaturan lingkungan belajar anak sehingga tidak menjadi penyebab munculnya perilaku hiperaktif.
e)      Modeling
Sistem meniru (modeling) dapat dipakai untuk mengurangi perilaku hiperaktif. Prosedur yang dipakai adalah dengan menyuruh anak normal di kelas untuk memberi contoh perilaku yang baik.
f)       Biofeedback
Biofeedback merupakan teknik pengendalian perilaku atau proses biologis internal dengan cara memberi informasi (feeding back) kepada anak mengenai kondisi perilaku dan tubuhnya.

B.   PENGENDALIAN DISTRAKBILITAS
1.      Pengertian Distrakbilitas
Distrakbilitas merupakan gangguan dalam perhatian pada stimulus yang relevan secara efisien. Ada 3 distrakbilitas, seperti yang diuraikan berikut ini :
a.    Short attention span dan frequent attention shifts, yaitu ketidakmampuan memusatkan perhatian dalam waktu yang relatif lama dan terlalu sering berpindah perhatian dari satu objek ke objek yang lain.
b.    Underselection attention, yaitu ketidakmampuan membedakan antara stimulus yang relevan yang harus diperhatikan dan stimulus yang tidak relevan yang harus diabaikan.
c.    Overselective attention, yaitu terlalu selektif dalam memberi perhatian sehingga hal-hal yang sebenarnya relevan menjadi tertinggal. Anak ini tidak mampu mengadakan generalisasi karena ia hanya mampu mengambil rentangan informasi yang terlalu kecil.
2.      Penyebab Distrakbilitas
Swerdlik (1987) mengatakan penyebab distrakbilitas yaitu adanya disfungsi minimal otak, gangguan sistem pencernaan tubuh (metabolisme), kelainan minimal pada fisik seperti ketidakseimbangan tubuh, faktor lingkungan seperti sistem asuh anak, dan keterlambatan perkemabangan.
3.      Pengendalian Distrakbilitas
Ada beberapa pendekatan yang sering dipakai dalam penanganan distrakbilitas menurut Kauffman (1985) :
a.    Lingkungan yang terstruktur dan stimulus yang terkendali
Cara tersebut dilakukan berdasarkan asumsi bahwa lingkungan sekolah/kelas yang terlalu banyak stimulusnya membuat mereka tidak dapat mengikuti pelajaran secara optimal, dimodifikasi dengan cara:
1)   dinding dan langit-langit yang kedap suara;
2)   pemasangan karpet di lantai;
3)   jendela ditutup dengan kain atau kaca baru;
4)   lemari dan rak buku ditata sehingga isinya tidak tampak;
5)   tidak ada dekorasi pada papan tulis atau majalah dinding, kecuali pada saat-saat tertentu;
6)   disediakan meja tulis yang tertutup di depan dan sampingnya sehingga anak dapat bekerja sendiri tanpa gangguan;
7)   kegiatan sehari-hari berjalan secara rutin dengan hanya sedikit variasi;
8)   tetapkanlah apa yang diharapkan dari anak dan jelaskan hal itu;
9)   pemberian konsekuensi (hadiah, hukuman) secara konsisten.
b.    Modifikasi materi dan strategi pembelajaran
Modifikasi materi yang disarankan adalah pada pengaturan materi pembelajaran, dianjurkan menggunakan model pembelajaran langsung atau terarah (direct instruction) yang ditandai dengan fokus pada guru, pengarahan dan harapan yang jelas dan eksplisit, serta pemantauan dan evaluasi dilakukan secara rutin.
c.       Modifikasi tingkah laku
Perlu menentukan kapan harus memberi hadiah, kapan harus memberi hukuman, serta jenis penguat apa yang pantas dipakai.




C.   PENGERTIAN, PENYEBAB, DAN PENGENDALIAN IMPULSIFITAS
1.      Pengertian Impulsifitas
Seseorang dikatakan impulsif jika cenderung mengikuti kemauan hatinya dan terbiasa bereaksi cepat tanpa berpikir panjang dalam situasi sosial maupun tugas-tugas akademik. Anak impulsif lebih berhati-hati dan lebih teliti pada waktu menghadapi soal akademik daripada menghadapi gambar.
2.      Penyebab Impulsifitas
Impulsif dapat disebabkan oleh faktor keturunan, cemas, faktor budaya, disfungsi saraf, perilaku yang dipelajari dari lingkungan, dan sebagainya dan juga karena faktor ego dan super ego tidak berkembang. Hal ini terjadi karena salah asuh atau karena adanya trauma dalam kehidupannya.
3.      Pengendalian Impulsifitas
Adapun beberapa metode untuk mengendalikan impulsif, diantaranya:
1)   melatih verbalisasi aktivitasnya untuk mengendalikan perilakunya;
2)   modifikasi tingkah laku;
3)   mengajarkan seperangkat keterampilan kepada anak, antara lain keterampilan memusatkan perhatian, menghindari gangguan/ stimulan pengganggu, mengembangkan keterampilan mengingat, menghargai perasaan;
4)   mendiskusikan perilaku anak antara guru dengan anak itu sendiri untuk memperoleh pemahaman akan masalah perilaku anak itu;
5)   wawancara dengan anak segera setelah perilaku terjadi untuk melihat apa yang telah terjadi, mengapa terjadi, dan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya masalah.

Kamis, 22 November 2012

Tunanetra

ANAK TUNANETRA
A. Pengertian Gangguan Penglihatan (ketunanetraan)
Pengertian tunanetra tidak saja mereka yang buta, tetapi mencakup juga mereka yang mampu melihat tetapi terbatas sekali dan kurang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup sehari-hari terutama dalam belajar. Jadi, anak-anak dengan kondisi penglihatan yang termasuk “setengah melihat”, “low vision” atau rabun adalah bagian dari kelompok anak tunanerta.
Anak-anak dengan gangguan penglihatan ini diketahui dalam kondisi :
1. ketajaman penglihatannya kurang dari ketajaman yang dimiliki orang awas.
2. Terjadi kekeruhan pada lensa mata atau terdapat cairan tertentu.
3. Posisi mata sulit dikendalikan oleh saraf otak.
4. Terjadi kerusakan susunan saraf otak yang berhubungan dengan penglihatan.
Dari kondisi diatas, pada umumnya yang digunakan sebagai patokan apakah seorang anak termasuk tunanetra atau tidak ialah berdasarkan pada tingkat ketajaman penglihatannya. Untuk mengetahui ketunanetran dapat mengunakan tes Snellen Card. Anak dikatakan tunanetra bila ketajaman penglihatannya (visusnya) kurang dari 6/21. Artinya, berdasarkan tes, anak hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang awas dapat dibaca pada jarak 21 meter.
Anak tunanetra dapat dikelompokkan menjadi 2 macam, yaitu:
1. Buta
Dikatakan buta jika anak sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari luar (visusnya = 0).
2. Low Vision
Anak masih bisa menerima rangsang cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21, atau anak hanya mampu membaca headline pada surat kabar.
B. Faktor-faktor Penyebab Ketunanetraan.
Secara ilmiah ketunanetraan anak dapat disebabkan oleh berbagai factor, apakah itu factor dalam diri anak (internal) ataupun factor dari luar anak (eksternal).
Hal-hal yang termasuk factor internal yaitu factor-faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih dalam kandungan : factor gen (sifat pembawa keturunan), kondisi psikis ibu, kekurangan gizi, keracunan obat dan sebagainnya.
Factor eksternal yaitu factor-faktor yang terjadi pada saat atau sesudah bayi dilahirkan. Misalnya : kecelakaan, terkena penyakit siphilis yang mengenai matanya saat dilahirkan, pengaruh alat bantu medis (tang) saat melahirkan sehingga system sayafnya rusak, kurang gizi atau vitamin, terkena racun, virus trachoma, panas badan yang terlalu tinggi, dan peradangan mata karena penyakit, bakteri, atau virus.
C. Perkembangan Kognitif Anak Tunanetra
Akibat dari ketunanertaan, maka pengenalan atau pengertian terhadap dunia luar anak, tidak dapat diperoleh secara lengkap dan utuh. Akibatnya perkembangan kognitif anak tunanerta cendrung terhambat dibandingkan dengan anak-anak normal pada umumnya. Hal ini disebabkan perkembangan kognitf tidak saja erat kaitannya dengan kecerdasan (IQ), tetapi juga dengan kemampuan indra penglihatannya.
Melalui indera penglihatan seseorang mampu melakukan pengamatan terhadap dunia sekitar, tidak saja pada bentuknya (pada objek berdimensi dua) tetapi juga pengamatan dalam (pada objek berdimensi tiga), warna, dan dinamikanya. Melalui indra inilah sebagian besar rangsang atau informasi akan diterima untuk selanjutnya diteruskan ke otak, sehingga timbul kesan atau persepsi dan pengertian tertentu terhadap rangsang tersebut. Melalui kegiatan-kegiatan yang bertahap dan terus menerus seperti inilah yang pada akhirnya mampu merangsang pertumbuhan dan perkembangan kognitif seseorang sehingga mampu berkembang secara optimal.
D. Perkembangan Motorik Anak Tunanetra
Perkembangan motorik anak tunanetra cendrung lambat dibandingkan dengan anak awas pada umumnya. Keterlambatan ini terjadi karna dalam perkembangan perilaku motorik diperlukan adanya koordinasi fungsional antara neuromuscular system (system persyarafan dan otot) dan fungsi psikis (kognitif, afektif, dan konatif), serta kesempatan yang diberikan oleh lingkungan.
Pada anak tunanerta mungkin fungsi neuromuscular system tidak bermasalah tetapi fungsi psikisnya kurang mendukung serta menjadi hambatan tersendiri dalam perkembangan motoriknya. Secara fisik, mungkin anak mampu mencapai kematangan sama dengan anak awas pada umumnya, tetapi karna fungsi psikisnya (seperti pemahaman terhadap realitas lingkungan, kemungkinan mengetahui adanya bahaya dan cara menghadapi, keterampilan gerak yang serba terbatas, serta kurangnya keberanian dalam melakukan sesuatu) mengakibatkan kematangan fisiknya kurang dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam melakukan aktivitas motorik. Hambatan dalam fungsi psikis ini secara langsung atau tidak langsung terutama berpangkal dari ketidakmampuannya dalam melihat.
E. Perkembangan Emosi Anak Tunanetra
Perkembangan emosi anak tunanetra akan sedikit mengalami hambatan dibandingkan dengan anak yang awas. Keterhambatan ini terutama disebabkan oleh keterbatasan kemampuan anak tunanetra dalam proses belajar. Pada awal masa kanak-kanak, anak tunanetra mungkin akan melakukan proses belajar mencoba-coba untuk menyatakan emosinya, namun hal ini tetap dirasakan tidak efisien karma dia tidak dapat melakukan pengamatan terhadap reaksi lingkungannya secara tepat. Akibatnya pola emosi yang ditampilkannya mungkin berbeda atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh diri maupun lingkungannya.
Perkembangan emosi anak tunanetra akan semakin terhambat bila anak tersebut mengalami deprivasi emosi , yaitu keadaan dimana anak tunanetra tersebut kurang memiliki kesempatan untuk menghayati pengalaman emosi yang menyenangkan seperti kasih sayang, kegembiraan, perhatian, dan kesenangan. Anak tunanetra yang cenderung mengalami deprivasi emosi ini terutama adalah anak-anak yang pada masa awal kehidupan atau perkembangannya ditolah kehadirannya oleh linkungan keluarga atau masyarakat. Deprivasi emosi ini akan sangat berpengaruh terhadap aspek perkembangan lain : kelambatan dalam perkembangan fisik, motorik, bicara, intelektual dan social. Selain itu, anak yang mengalami deprivasi emosi akan bersifat menarik diri, mementingkan diri sendiri,serta sangat menuntut pertolongan atau perhatian dan kasih saying dari orang-orang disekitarnya.
F. Perkembangan Sosial Anak Tunanetra
Perkembangan social berarti dikuasainya seperangkat kemampuan untuk bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Bagi anak tunanetra penguasaan seperangkat kemampuan bertingkah laku tersebut tidaklah mudah. Anak tunanetra lebih banyak menghadapi masalah dalam perkembangan social. Hambatan-hambatan tersebut adalah kurangnya motivasi, ketakutan menghadapi lingkungan social yang lebih luas atau baru, perasaan rendah diri, malu, keterbatasan anak untuk dapat belajar social melalui proses identifikasi dan imitasi, serta sikap-sikap masyarakat yang sering kali tidak menguntungkan : penolakan, penghinaan dan sikap tak acuh.
Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa bagaimana perkembangan social anak tunanetra itu sangat bergantung pada bagaimana perlakuan dan penerimaan lingkungan terutama lingkungan keluarga terhadap anak tunanetra itu sendiri. Bila perlakuan dan penerimaannya baik, maka perkembangan social anak tunanetra tersebut akan baik dan begitu juga sebaliknya.
G. Dampak Ketunanetraan bagi Keluarga, Masyarakat, dan Penyelenggara Pendidikan
Hasil penelitian para ahli mengenai pandanga dan sikap orang awas terhadap penyandang tunanetra adalah bahwa dalam pandangan orang awas,penyandang tunanetra memiliki beberapa karakteristik, baik yang sifatnya positif maupun negative.
Penilaian Negative :
1. Penyandang tunanetra pada umumnya memiliki sikap tidak berdaya.
2. Sifat ketergantungan.
3. Memiliki tingkat kemampuan rendah dalam orientasi waktu.
4. Tidak pernah merasakan kebahagiaan.
5. Memiliki sifat kepribadian yang penuh dengan frustasi-frustasi.
6. Kaku.
7. Resisten terhadap perubahan-perubahan.
8. Cenderung kaku dan cepat menarik tangan dari lawannya pada saat bersalaman.
9. Mudah mengalami kebingungan ketika memasuki lingkungan yang tidak familiar yang ditunjukkan dengan perilaku-perilaku yang tidak tepat.
Penilaian Positif :
1. Penyandang tunanetra lebih peka terhadap suara, perabaan, ingatan, keterampilan dalam memainkan alat musik.
2. Ketertarikan yang tinggi terhadap nilai-nilai moral dan agama.
Sebaliknya, para penyandang tunanetra sendiri beranggapan bahwa orang awas pada umumnya memiliki sikap sebagai berikut :
1. Pada umumnya orang awas tidak tahu banyak tentang ‘orang buta’ dan kemudian akan terheran-heran ketika orang tunanetra menunjukkan kemampuannya dalam beberapa hal.
2. Orang awas cenderung kasihan pada orang tunanetra dan pada saat yang sama mereka berfikir bahwa mereka lebih berani dibandingkan dengan orang awas lainnya.
Sikap orang tunanetra terhadap kebutaannya, menurut Bauman (Kirtley, 1975) bahwa keberhasilan dalam penyesuaian social dan ekonomi pada penyandang tunanetra berkaitan erat dengan sikap-sikap diri dan keluarganya terhadap penerimaan secara emosional yang realistik terhadap kebutaannya serta pemilikan kemampuan intelektual dan stabilitas psikologis.
Reaksi orang tua terhadap ketunanetraan anaknya dibagi menjadi 5 kelompok :
1. Penerimaan secara realistik terhadap anak dan ketunanetraannya.
2. Penyangkalan terhadap ketunanetraan anak.
3. Overprotection atau perlindungan yag berlebihan.
4. Penolakan secara tertutup.
5. Penolakan secara terbuka.
Sikap para guru sebagai penyelenggara pendidikan, hasil penelitian Murphy (Kirtley, 1975) menunjukkan bahwa pada umumnya para guru (guru umum dan guru PLB) cenderung mengesampingkan anak tunanetra, tetapi guru khusus (guru PLB) cenderung bersikap lebih positif terhadap anak tunanetra.
Sumber :
Dra. Hj. T. Sutjihati Somantri, M.Si., psi. (2007). “Psikologi Anak Luar Biasa”. Karakteristik dan Masalah Perkembangan Anak Tunanetra, 65-91. Bandung: PT. Refika Aditama.

Selasa, 20 November 2012

TUNAGANDA

TUNAGANDA


Istilah lain yang digunakan untuk menyebut anak tunaganda :
 
Anak tunamajemuk
  anak cacat ganda
  anak cacat majemuk
  multiple handicaps
  multiple disabilities
  Pengertian dan Karakteristik Anak Tunaganda
 Yang disebut anak tunaganda adalah anak yang memiliki kombinasi kelainan (baik dua jenis kelainan atau lebih) yang menyebabkan adanya masalah pendidikan yang serius ,sehingga dia tidak hanya dapat diatas dengan suatu program pendidikan khusus untuk satu kelainan saja, melaiankan harus didekati dengan variasi program pendidikan sesuai kelainan yang dimiliki.


Anak tunaganda biasanya menunjukkan fenomena-fenomena perlaku di antaranya :
1. Kurang komunikasi atau sama sekali tidak dapat berkomunikasi.
2. Perkembangan motorik dan fisiknya terlambat.
3. Seringkali menunjukkan perilaku yang aneh dan tidak bertujuan.
4. Kurang dalam keterampilan menolong diri sendiri.
5. Jarang berperilaku dan berinteraksi yang sifatnya konstruktif.
6. Kecenderungan lupa akan keterampilan keterampilan yang sudah dikuasai.
7. Memiliki masalah dalam mengeneralisasikan keterampilan keterampialan dari suatu situasi ke situasi lainnya.


  Klasifikasi anak Tunaganda
 Pada dasarnya ada beberapa kombinasi kelaianan, di antaranya:
1. Kelainan utamanya tunagrahita.
Gabungannya dapat tunagrahita atau tunanetra. Gabungan dengan tunanetrainilah yang dipandang paling berat cara menanganinya.
2. Kelainan utamanya tunarungu.
 Gabungannya dapat tunagrahita atau tunanetra. Gabungan dengan tunanetra inilah yang dipandang paling berat cara menanganinya.

3. kelainan utamanya tunanetra.
 Gabungannya dapat berwujud tunalaras, tunarungu, dan kelainan yang
4. Kelainanan utamanya tunadaksa.
 Gabungannya dapat berwujud tunagrahita, tunanetra, tunarungu, gayaemosi, dan kelainan lain.
5. Kelainan utamanya tunalaras.
 Gabungannya dapat berwujud austisme dan pendengaran.
6. Kombinasi kelainan lain.


  Penyebab Anak Tunaganda
 Anak tunaganda disebabkan oleh faktor yang variatif, yang dapat terjadi pada saat sebelum kelainan, saat kelahiran, dan atau setelah kelahiran.

1. Faktor Prenatal :
  ketidaknormalan kromosom komplikasi-komplikasi pada anak dalam kandungan ketidakcocokan Rh infeksi pada ibu, kekurangan gizi ibu yang sedang mengadung, serta terlalu banyak menkonsumsi obat dan alcohol.
2. Faktor Natal :
 Kelahiran prematur kekurangan oksigen pada saat
 keiahiran luka pada otak saat kelahiran.

3. Faktor natal :
  Kepala mengalami kecelakaan kendaraan ,jatuh ,dan
  mendapat pukulan atau siksaan ,

4. Nutrisi yang salah :
  Anak tidan dirawat dangan baik, keracunan makanan
  atau penyakit tertentu yang sama, sehingga dapat
  berpengaruh tehadap otak (meningitis atau encephalities).

Prevalensia Anak Tunaganda
mengingat belum ada defininsi yang dapat diterima secara umum tentang anak tunaganda, maka tidak ada gambaran yang akurat tentang prevalensi anak tunaganda. jika menggunakan analog di Amerika Serikat, maka jumlah anak tunaganda berkisar sekitar 0,05% sampai dengan 0,1% dari populasi usia sebaya. Berdasarkan asumsi bahwa jumlah anak tunaganda di Indonesia proporsinya sama dengan yang di Amerika Serikat, maka jumlah anak anak usia sekolah di Indonesia yang sekitar 60 juta orang, maka anak tunaganda Indonesia sekitar 99.000 anak sampai 110.000 anak.

  LAYANAN PENDIDIKANNNYA
 Pada masa lalu,tunaganda secara rutin dipisahkan dari sekolah regular,bahkan sekolah Khusus .Namun sejak tahun 80-an layanan pendidikan bagi anak tunaganda semakin mendapat perhatian di tengah-tengah masyarakat, dengan mendirikan sekolah-sekolah khusus. Demikian juga program-program pendidikan bagi anak
tunaganda semakin dikembangkan untuk anak usia sedini mungkin.setidak-tidaknya program pendidikan lebih diorientasikan untuk meninmgkatkan kemandirian anak.untuk menjaga efekvitas program pendidikan,maka program seharusnya mengakes empat bidang utama, yaitu bidang domestik, rekreasional, ,kemasyarakatan, dan vokasional.Hasil asesmen ini mungkinkan dapat membantu dalam merumuskan tujuan yang lebih fungsional.Sementara itu dengan pengajaran seharusnya mencakup,di antaranya:ekspresi pilihan, komunikasi,pengembangan keterampilan fungsional,dan latihan keterampilan sosial sesuai dengan usianya,menyadari akan kondisi obyektif anak anak tunaganda,maka pendekatan multidipliner adalah penting.Oleh karena itu orang-orang yang sesuai dalam mengatasi anak tunaganda,seperti terapis bicara dan bahasa,terapis
bicara dan bahasa,terapi fisik dan okupasional seharusnya bekerjasama dengan guru-guru kelas,guru-guru khusus dan orangtua,karena perlajuan yg lebih cocok untuk mengatasi anak-anak tunaganda berkenaan dengan masalah ketererampilan adalah memberikan layanan yang terbaik daripada yang diberikan ditempat terapi yang terpisah.Untuk dapat menjamin kemandirian menjamin kemandirian anak tunaganda dalam proses pembelajaran perlu didukung dengan penataan kelas yang sesuai,alat bantu dalam meningkatan keterampilan fungsionalnya.
Integrasi dengan anak seusia merupakan komponen lainnya yg penting.menghadirin sekolah regular dan berpartisipasi dalam kegiatan yg sama dengan anak-anak normal adalah penting untuk pengembangkan keterampilan sosial dan persahabatan,di samping dapat mendorong adanya perubahan sikap yg lebih positif.
 

TUNADAKSA

Tuna daksa
Apakah peristilahan lain Tunadaksa ?

Tuna berarti cacat, Daksa berarti tubuh

Lstilah lain dari Tunadaksa sbb:
  Cacat Fisik
  Cacat Orthopedi
  Crippled
  Phocially handicapped
  Physically Disabled

  Apakah Tunadaksa itu ?

Pengertian tunadaksa adalah sbb:
  kelainan yang meliputi cacat tubuh atau kerusakan tubuh
  kelainan atau kerusakan pada fisik dan kesehatan.
  Kelainan atau kerusakan yang disebabkan oleh kerusakan
  Otak dan saraf tulang belakang

  Klasifikasi Anak Tunadaksa
Klasifikasi Anak Tunadaksa terdiri dari:
  kelainan pada sistem serebrai (Cerebral System
  Disorders). Penggolongan Anak tunadaksa ini ke dalam sistem selebrai yang didasarkan pada letak penyebab kelahiran yang terletak pada sistem saraf pusat. Celebral palsy digolongkan menjadi :
  Derajat kecacatan
  Topografi
  Sosiolongi kelainan Gerak.

  penggolongan Celebrai palsy menurut derajat kecatan meliputi :
  Golongan ringan adalah mereka yang dapat berjalan
  Tampa menggunakan alat berbicara tegas dan dapat menolong dirinya sendiri
  Golongan sedang ialah mereka yang membutuhkan treatment atau latihan
Untuk bicara, berjalan dan mengurus dirinya sendiri.

  Golongan Berat, Golongan ini selalu membutuhkan perawatan dalam ambulasi, bicara dan menolong diri sendiri.

  Penggologan Celebral Palsy menurut Topografi
  Monoplegia, adalah kecacatan satu anggota gerak, Al kaki kanan.

  Hemiplegia, adalah lumpuh anggota gerak atas, dan bawah, Al Tangan kanan dan khaki kanan.

  Paraplegi, Lumpuh pada kedua tungkai kakinya.
  Diplegi, Lumpuh kedua tangan kanan dan kiri atau kaki kanan dan kiri.

  Quadriplegi, adalah kelumpuhan seluruhan anggota geraknya.

Penggolongan menurut Fisiologi (Motorik), meliputi :
  Spastik
  Atetoid
  Ataxia
  Tremor
  Rigid
  Tipe campuran

  Apakah Penyebab Tunadaksa
Penyebab tunadaksa dilihat saat terjadinya kerusakan otka dapat terjadi pada:
  Sebab sebab sebelum lahir antara laian : terjadi infeksi penyakit, kelainan kandungan, kandungan radiasi, saat mengandung mengalami trauma (Kecelakaan).

  Sebab sebab pada saat kelahiran, antara lain : Proses kelahiran terlalu lama, Proses kelahiran yang mengalami kesulitan Pemakaian Anestasi yang melebihi ketentuan.

  Sebab sebab setela2h proses kelahiran, antara lain : Kecelakaan, lnfeksi penyakit, dan Ataxia.

• Karakteristik Anak Tunadaksa
Anak tunadaksa akan mengalami gangguan psikologis Yang cenderung merasa malu, rendah diri dan sensitif Serta memisahkan diri dari lingkungannya. Di samping karakteristik tersebut terdapat problema Anak tunadaksa antara lain, gangguan taktil dan

  Bagaimana lmplementasi Pendidikan Anak tunadaksa?
Pelayanan Pendidikan bagi anak Tunadaksa, Guru mempunyai peranan ganda disamping sebagai pengajar, pendidik juga sebagai pelatih. Pelayanan terapi yang diperlukan anak tunadaksa antara lain : latihan bicara, fisioterapi, Occupational Therapy dan Hydro Therapy.
  Anak Tunadaksa pada dasarnya sama dengan anak
normal lainnya, hanya dari aspek psikologi sosial mereka membutuhkan rasa aman dalam bermobilisasi dalam kehidupannya. 


  Bagaimana Model Layanan Pendidikan Anak Tunadaksa?
Model layanan pendidikan bagi anak tunadaksa dibagi pada sekolah khusus dan atau sekolah terpadu atau inklusi:
  Sakolah kusus adalah diperuntuk bagi anak yang mempunyai problema yang lebih berat bagi intelektualnya maupun emosinya.

  Sekolah terpadu / inkulsi, Sekolah ini diperuntukkan bagi anak tuadaksa yang mempunyai problema ringan dan problema penyerta dan tidak disertai oleh problema retadasimental.

Senin, 19 November 2012


ANAK TUNAGRAHITA

1.      PENGERTIAN ANAK TUNAGRAHITA
     Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Dalam kepustakaan bahasa asing digunakan istilah mental retardation, mentally retarded, mental deficiency, mental defective, dll.
     Istilah-istilah tersebut menjelaskan arti yang sama yaitu menjelaskan kondisi anak yang memiliki kecerdasan jauh di bawah rata-rata yang ditandai oleh keterbatasan inteligensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. Anak Tunagrahita atau dikenal juga dengan istilah terbelakang mental karena keterbatasan kecerdasannya sukar untuk mengikuti program sekolah biasa secara klasikal, oleh karena itu anak terbelakang mental menbutuhkan layanan pendidikan secara khusus, yakni disesuaikan dengan kemampuan anak tersebut.
    
2.      PERKAMBANGAN KOGNITIF ANAK TUNAGRAHITA
     Suppes (1974) menjelaskan bahwa kognisi merupakan biddang yang luas yang meliputi semua keterampilan akademik yang berhubungan dengan wilayah presepsi. Mussen, Conger, dan kagan (1974) menjelaskan bahwa kognisi paling sedikit terdiri dari lima proses,  yaitu : (1) persepsi, (2) memory, (3) pemunculan ide-ide, (4) evaluasi, (5) penalaran, kaidah-kaidah.
     Para ahli psikologi perkembangan umumnya beranggapan bahwa jika anak Tunagrahita dibandingkan dengan anak normal yang mempunyai MA yang sama secara teoritis akan memiliki tahap perkembangan kognitif yang sama (Zigler 1969). Pendapat ini didasarkan pada sebuah asumsi bahwa individu secara aktif mengkontruksikan struktur internalnya melalai interaksi dengan lingkungan.
     Dalam kecepatan belajar anak tunagrahita jauh ketinggalan oleh anak normal. Untuk mencapai kriteria-kriteria yang dicapai oleh anak normal, anak tunagrahita lebih banyak memerlukan ulangan tentang bahan tersebut.dalam kaitannya dengan makna pelajaran ternyata anak tunagrahita dapat mencapai prestasi lebih baik dalam tugas-tugas diskriminasi (misalnya mengumpulkan bentuk-bentuk yang berbeda, memisahkan pola-pola yang berbeda, dsb) jika mereka melakukannya dengan pengertian.
     Beberapa penelitian tentang pengaruh reaksi-reaksi afektif  ternyata bahwa anak tunagrahita memberikan reaksi yang sama dengan anak normal. Anak yng berhasil mencapai sukses pada tugas berikutnya. Hal ini terjadi baik pada anak tunagrahita maupun anak noarmal. Adapun kegagalan pengaruhnya  berbeda-beda terhadap perkembangan sikap dan prestasi berikutnya.
     Keakuratan respon anak tunagrahita kurang dari pada respon anak normal. Tetapi bila tugas bersifat diskriminatif visual ternyata prestasi anak tunagrahita hampir sama dengan yang diperoleh anak normal.
     Berkenaan dengan memori anak tunagrahita berbeda dengan anak normal pada short term memory. Anak tunagrahita nampaknya tidak berbeda dengan nak normal dalam long term memory. Dengan kata lain anak tunagrahita dapat menangkap informasi ke dalam sistem memori, daya ingatnya sama dengan anak normal.
     Fleksibilitas mental yang kurang pada anak tunagrahita mengakibatkan kesulitan dalam penngorgnisasian bahan yang akan dipelajari. Oleh karena itu sukar bagi anak tunagrahita untuk menangkap informasi yang kompleks.

3.      PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK TUNAGRAHITA
     Berdasarkan bukti hasil penelitian ada keyakinan bahwa semakin rendah kemampuan intelek seorang anak akan semakin rendah pula kemampuan motoriknya, demikian pula sebaliknya.
     Latihan motorik berpengaruh pada kemajuan belajar dalam pelajaran-pelajaran lain, juga terhadap perkembangan emosi dan self direction. Bukti lain yang menguatkan dugaan tentang kuatnya hubungan antara keterampilan motorik dengan tingkat kemampuan mental anak tunagrahita dikemukakan oleh Kral (1972) dan Stein (1964) yang melaporkan rangkuman hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Amerika Serikat pada tahun 1951-1963 menyimpulkan bahwa secara umum penampilan anak tunagrahita kurang memadai hampir pada semua tes kecakapan motorik jika dibandingkan dengan anak normal yang memiliki CA yang relative sama. Perbedaan mencolok pada koordinasi gerak yang kompleks dan yang memerlukan pemahaman.
     Perkembangan motorik mencakup dua hal, yaitu : gross motor (seperti berjalan, melompat, melempar), dan fine motor (seperti menulis, menyulam, menggunting, dsb). Pada anak-anak yang pertama berkembang adalah gross motor,   sedangkan fine motor berkembang lebih akhir.


4.      PERKEMBANGAN EMOSI ANAK TUNAGRAHITA
     Perkembanagan dorongan dan emosi berkaitan dengan ketunagrahitaan seorang anak. Anak tunagrahita berat tidak dapat menunjukkan rasa lapar atau haus dan tidak dapat menghindari bahaya. Pada anak tunagrahita sedang, dorongan berkembang lebih baik tetapi kehidupan emosinya terbatas pada emosi –emosi yang sederhana.
     Pada anak terbelakang ringan kehidupan emosinya tidak jauh berbeda dengan anak normal akan tetapi tidak sekaya anak normal. Anak tunagrahita dapat memperlihatkan kesedihan tapi sukar untuk menggambarkan suasana terharu. Mereka bisa mengekspresikan kegembiraan, tetapi sulit untuk mengungkapkan kekaguman.